UNIVERSITAS KARTINI SURABAYA

Corona: Ancaman Kesehatan atau Ancaman Negara?

SURABAYA – Virus Corona itu termasuk ancaman kesehata atau ancaman negara? Segelintir pertanyaan yang mengusik pikiran saya atau bahkan semua orang yang mulai merasakan dampaknya. Menurut saya virus corona sudah masuk kategori ancaman negara atau nation threat, bukan ancaman kesehatan lagi.

virus corona

Namun siapa yang bisa menentukan virus corona masuk dalam kategori sebuah ancaman negara atau kesehatan? Lembaga mana atau individu jabatannya apa? Pertanyaan yang cukup sulit dijawab, namun saya mecoba untuk memeras otak berusaha menjawab pertanyaan tersebut dengan analisa data yang ada sampai saat ini.

Begitu ada saran dari Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus yang menyatakan bahwa Indonesia masuk kategori bencana. Namun bagaimana bencana itu masuk dalam kategori 4 yaitu: State Emergency yang bisa membuat beberapa daerah di lock down. Presiden Joko Widodo mengatakan dirinya akan berbicara dengan pihak WHO untuk menjelaskan cara Indonesia dalam menangani pandemi corona yang terus meningkat.

Sayang, pejabat negara saat ini tidak melakukan apa yang disarankan oleh WHO, dan akhirnya membuat pengamat dunia ketar-ketir, alasannya banyak hal dan bermacam-macam. Coba kita pahami, misalnya ekonomi bisa lumpuh, biayanya besar karena cadangan pangan, cadangan energi, cadangan obat-obatan apakah cukup untuk hajat hidup orang banyak selama daerahnya diisolasi.

Kita mencoba memahami dari sisi pejabat negara yang selama ini punya pola sama, katanya bisa rugi, katanya tidak ada dana, katanya ekonomi berat menjadi alasan paling dominan. Oleh karena itu berat banget bagi negara untuk mengumumkan corona sebagai ancaman negara, menurutnya, saat ini corona bukan ancaman negara tapi ancaman kesehatan dengan harapan bisa sembuh dengan sendirinya, begitu yaa broo?

Karena corana ancaman kesehatan, maka keputusannya hanya himbauan sambil berusaha meniru ala Korea Selatan, pertanyaannya apanya yang ditiru? Ini menarik, karena kalau meniru gaya Korea Selatan, Vietnam dan Arab Saudi dalam menangani Corona, ketiganya punya pendekatan yang sama. Mereka melakukan pendekatan virus corona sebagai ancaman negara atau nation threat, sehingga militer dan intelijen mengambil alih fungsi seperti kesehatan, pertahanan dan distribusi pangan (itu yang harus ditiru).

Social distancing bisa dilakukan kalau masalahnya adalah ancaman kesehatan, namun new corona virus code name-nya covid 19 adalah “Biological Weapon” maka pendekatannya harus ancaman negara yaitu segera putuskan menjadi darurat militer. Apakah ide gagasan ini keterlaluan? Bisa jadi lebay.

Kita ada baiknya melihat masalah corona yang merupakan senjata biologi ini dilihat dari bigger perspective kacamata yang lebih luas. Pertama, ini adalah sebuah ancaman negara. Dua, ini adalah warfare atau perang. Namun, saat ini negara melakukan pendekatan sebagai “darurat sipil” dengan startegi “sosial distancing” rasanya tidak akan efektif. Bisa–bisa penanganan corona sudah terlambat, walau masih cukup waktu dan jika tindakannya tepat sudah lebih 200 orang yang terpapar di daerah pandemic, khususnya ibukota Jakarta dan beberapa kota lainnya.

Jadi ada baiknya kita containment, kotakkan Jakarta masuk pandemic sudah masuk kategori orange dan sebainya dilakukan social separation meniru Vietnam, meniru Arab Saudi, dimana penduduk Jakarta dirumahkan, dengan menempatkan militer menjaga setiap titik-titik distribusi, bila perlu lamanya 7 hari kedepan. Financial market, bursa saham ditutup anggap saja nyepi. China dengan strateginya me-lock down kota Wuhan dan membatasai provinsi hubei, ternyata kurang dari satu bulan ternyata seluruh negara bagian China selesai dalam mengatasi virus Corona.

Dan disemester ke II tahun 2020 mereka lebih dulu take off. Sementara Indonesia agak terlambat, harusnya sejak Januari kemarin sudah selected block turis asing masuk ke Indonesia. Dan sudah pasang alat pendeteksi suhu dan tes kesehatan lainnya, sudah mulai beli alat-alat disinfectant portable yang akan dipasang dimana-mana, disiapkan jutaan alat deteksi personal yang cepat dimana 15 menit sudah tahu hasilnya.

Namun sekarang berat. Saat virus corona masuk Indonesia, tahu-tahu Amerika kasih kode Go Ahead ke Muhammad Bin Salman untuk menjual murah harga minyak di bawah 30US$/barel. Indonesia bukan kejedot Corona saja, namun digebuk dolar juga karena gak bisa eksport yang mengakibatkan tidak punya cadangan dollar, dimana kebutuhan dollar untuk import masih besar. Terutama untuk import minyak yang membuat rupiah AMBYAR!!!! Terus solusinya bagaimana?

Ada dua ancaman nasional kali ini dihadapi Indonesia yaitu ekonomi dan kesehatan. Sebaiknya kita lupakan dulu masalah ekonomi dan fokus ke kesehatan dan atas nama kemanusian. Semua kekuatan baik dana, tenaga fokus untuk menangani corona!!! Di atas economic value yang diutamakan, namun saat ini ada yang berada di atas nilai ekonomi yaitu nilai kemanusiaan. Negara harus hadir, dana yang dibutuhkan mungkin nggak sampai Rp13 trilliun dan waktunya juga nggak sampai sebulan untuk lock down.

Jakarta dan sekitarnya termasuk Surabaya lock down. Jangankan lamanya 7 hari bila perlu 10 hari nyepi. Pakai darurat militer ala Vietnam, Arab Saudi, Korea Selatan. Kemenhan, BNPB, KASAD, Panglima, BIN dan Menkes bisa selesaikan, dan saya kira semua kekuatan kalau menjadi satu bisa mengatasi yang namanya virus Corona.

Mereka semua adalah “Man With Uniform”. Dan paham sekali apa yang harus mereka lakukan dan apa yang akan mereka lakukan, seperti halnya di Korea Selatan, Vietnam dan Arab Saudi. Semua manusia Indonesia di test, semua di-disinfektan-kan selagi di-lock down-kan, hanya personal keamanan yang boleh keluar, dan warga yang ada keperluan mendesak untuk pergi ke rumah sakit, itupun dikawal militer.

Sekedar pengingat, di Iran tiga minggu yang lalu pasien terdampak corona mencapai 227 terpapar, 19 meninggal. Sekarang di Iran 29.406 terpapar 2.234 meninggal karena tidak mau lock down. Indonesia sendiri sampai dengan up date 27 Maret 2020 pukul 07.20 WIB 893 terpapar, 78 meninggal

Dekan FK UI Ari Fahrial Syam mengatakan angka kematian akibat Corona atau COVID-19 di Indonesia cukup tinggi berkisar 8 persen. Pemerintah mengumumkan tambahan 20 pasien meninggal dunia akibat virus corona pada Kamis (26/3). Dengan demikian, jumlah pasien yang meninggal dunia akibat virus Covid-19 itu melonjak jadi 78 orang. Ini sekaligus menjadi kenaikan tertinggi jumlah pasien corona yang meninggal. Kasus kematian cukup tinggi yang sebelumnya diumumkan pemerintah adalah 12 orang pada 18 Maret 2020 dan 10 orang pada 22 Maret 2020.

Catur Prasetya, Wartawan senior & Humas Universitas Kartini Surabaya

Previous

Next

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Start a Conversation

Hi! Click one of our member below to chat on Whatsapp

Panitia PMB

Panitia PMB

Aya - Staff Penerimaan Mahasiswa baru

online

support dan informasi

support dan informasi

Doni | TU Staff

online